Sedangkan layaknya sehingga anak tersebut terhindar dari perbuatan yang

Sedangkan maksud tanggung jawab pendidikan dan pembinaan
akhlak adalah pendidikan dan pembinaan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan
tabiat yang harus dimiliki anak sejak anak masih kecil hingga anak dewasa.1

Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk
membesarkan anak karena didalamnya anak mendapat pendidikan yang pertama kali.
Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil akan tetapi merupakan
lingkungan yang paling kuat dalam membesarkan anak terutama pada anak yang
belum masuk pendidikan formal. Keluarga yang baik maka akan berpengaruh positif
pada perkembangan anak, sedangkan keluarga yang bermasalah akan berpengaruh
negatif pada anak (Sudarsono, 1995:125).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Kebiasaan yang baik maupun positif yang telah tertanam
kuat pada jiwa anak tidak akan hilang begitu saja pada masa depannya.
Pengalaman keberagamaan pada masa anak-anak akan tergores kuat pada hati
seseorang seperti ukiran diatas batu. Jiwa yang polos apabila diisi dengan
keberagamaan, maka yang diterimanya itu akan melekat kuat. Anak akan melakukan
apa yang telah diterimanya disinilah letak pentingnya orangtua dalam membina
anak.

Pada sisi lain kenakalan anak sering terjadi karena
perceraian keluarga atau perpisahan orangtua, karena disebabkan tidak intensnya
salah satu orangtua membuat anak merasa hidupnya tidak normal seperti anak-anak
lain. Kondisi saat ini membuat anak tersebut kurang percaya pada orangtua dan
selalu mencari jalan keluar setiap masalahnya sendiri, bisa jadi mereka
terlibat dalam pergaulan yang tidak sepantasnya (buruk). Karena itu akan
menjadi perbedaan proses perkembangan keagamaan pada anak dalam korban
perceraian. Kenakalan anak yang disebabkan karena broken home (perceraian)
dapat diatasi dengan cara-cara tertentu, seperti tanggung jawabnya orangtua
dalam memelihara anak-anaknya seharusnya mampu memberikan kasih sayang
sepenuhnya, sehingga anak tersebut merasa seolah-olah tidak pernah kehilangan
ayah atau ibunya.2
Keperluan anak secara jasmaniah (makan, minum, pakaian, dan sarana-sarana
lainnya) harus dipenuhi pula sebagaimana layaknya sehingga anak tersebut
terhindar dari perbuatan yang melawan hukum misalnya, percurian, penggelapan,
penipuan, gelandangan dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika keberagamaan
anak sudah jatuh maka akan sulit untuk mengembalikan menjadi anak yang baik.3

Kebiasaan yang baik maupun positif yang telah tertanam
kuat pada jiwa anak tidak akan hilang begitu saja pada masa depannya.
Pengalaman keagamaan pada masa anak-anak akan tergoreskan kuat pada hati
seseorang seperti ukiran diatas batu. Jiwa yang polos apabila diisi dengan
keberagamaan, maka yang diterimanya akan melekat kuat. Anak akan melakukan apa
yang telah diterimanya disinilah letak pentingnya orangtua dalam membina anak.

Pada sisi lain kenakalan anak sering terjadi karena
perceraian keluarga perpisahan orangtua, karena disebabkan tidak intensnya
salah satu orangtua membuat anak merasa hidupnya tidak normal seperti anak-anak
lain. Kondisi semacam ini membuat anak tersebut kurang percaya pada orangtua
dan selalu mencari jalan keluar setiap masalahnya sendiri, bisa jadi mereka
terlibat dalam pergaulan yang tidak sepantasnya (buruk). Karena itu akan
menjadi perbedaan proses perkembangan kebergamaan pada anak dalam korban
perceraian. Kenakalan anak yang disebabkan karena broken home (perceraian) dapat diatasi/ditanggulangi dengan
cara-cara tertentu, seperti tanggung jawabnya orangtua dalam memelihara
anak-anaknya seharusnya mampu memberikan kasih sayang sepenuhnya, sehingga anak
tersebut merasa seolah-olah tidak pernah kehilangan ayanh atau ibunya.
Keperluan anak secara jasmaniah (makan, minum, pakaian, dan sarana-sarana
lainnya) harus dipenuhi pula sebagaimana layaknya sehingga anak tersebut terhindar
dari perbuatan yang melawan hukum misalnya : percurian. Penggelapan, penipuan,
gelandangan, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika keberagamaan anak
sudah jatuh maka akan sulit untuk mengembalikan menjadi anak yang baik.

Perilaku penyimpangan yang dilakukan anak tidak jauh
karena kurang perhatian orangtua salah satu orangtua yang tidak ikut mendidik
anak dalam keluarga, karena anak akan merasa kehilangan salah satu figur
teladan yang seharusnya menjadi peraturan dalam keberagamaan. Pada keluarga
single parent menuntut peran ganda dari orangtua tunggal untuk selalu
memperhatikan pendidikan psikologi keberagamaan anak, sehingga anak tidak
kehilangan pegangan dalam hidupnya dalam bersikap.

Tidak sedikit pada keluarga single parent menjadikan anak
lebih cepat dewasa dalam hal pemikirannya karena untuk di tuntut lebih mengerti
kondisi keluarga tunggal, ketidak adanya salah satu figur dalam single parent
membuat tidak sedikit anak akan menyesuaikan peran yang bisa sedikit membantu
beban orangtuanya. Misalnya dalam single parent dimana hanya ada figur ayah
maka anak harus mencoba mengurus kebutuhan keluarga seperti menyiapkan makanan
untuk ayahnya. Kemandirian anak dalam single parent ini dipengaruhi dalam sebab
ketidak adanya salah satu figur dalam keluarga karena dalam perceraian dan
kematian menjadi pengaruh yang berbeda pada anak.

 

 

Meningkatkan pertumbuhan keluarga yang berorangtua
(single parent) tunggal saat ini merupakan fenomena yang berlangsung terus di
Indonesia, baik itu dikarenakan kasus perceraian atau kematian orangtua.Berdasarkan
hal-hal tersebut peneliti mengajukan judul penelitian yang berjudul :”Pola Asuh Single Parent
Terhadap Keberagamaan Anak di Desa Jati 
Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus”.

A.   
Fokus Penelitian

1.     
Pola Asuh

Pola asuh merupakan aktivitas kompleks yang mencakup
barbagai tingkah laku spesifik yang bekerja secara individual dan serentak
dalam mempengaruhi tingkah laku.

2.     
Single Parent

Single parent adalah orangtua satu-satunya. Orangtua
satu-satunya dalam konteks ini adalah keluarga dengan oarngtua tunggal sehingga
dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya sendiri tidak dengan bantuan
pasangannya, karena istri/suami mereka meninggal atau sudah berpisah/cerai.
Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah keluarga single parent
(janda/duda) di Kelurahan Jati Kulon Kecamatan Jati, tepatnya di RT 04/RW 01
dan dikarenakan jumlah keluarga single parent di RT 04/RW 01 tersebut sedikit
(3)jiwa. Penulis hanya mengambil 1 keluarga saja dengan prioritas yang muda
diajak berkomunikasi dan masih memiliki anak usia tidak melebihi 12 tahun agar
sesuai dengan orientasi dalam penelitian ini, yaitu lebih menekankan pada pola
keberagamaan anak (yang belum menginjak remaja) pada keluarga single parent.
Sedangkan 2 keluarga single parent lainnya tidak diikutsertakan dalam
penelitian ini dikarenakan, keluarga single parent tersebut tidak termasuk
dalam kategori penelitian pola asuh sinle parent terhadap anak yang masih
memiliki usia 2-12 tahun. 5.   Keluarga

 

 

 

 

 

 

3.     
Keberagamaan

Keberagamaan dikatakan pendidikan non formal tetapi akan
sangat membekas pada diri anak. Maka sangat sulit ketika orangtua mendidik anak
sendirian memaksa orangtua tunggal tersebut harus berperan ganda dalam kelurga
untuk sang anak.

Tangung jawab keluarga dalam membina keberagamaan anak,
baik tanggung jawab pendidikan dan pembinaan akidah maupun tanggung jawab
pendidikan dan pembinaan akhlak, merupakan hal yang sangat penting. Maksud
tanggung jawab pendidikan dan pembinaan akidah adalah mengikat anak dengan
dasar-dasar keimanan, keislaman, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami
sesuatu.

 

4.     
Anak

Seorang anak yang baru
dilahirkan sesungguhnya memiliki kesiapan alamiah untuk mempercayai Tuhan dan
mengesakan-Nya. Hanya saja, kesiapan alamiah ini membutuhkan pengajaran,
pengarahan dan bimbingan dari berbagai pihak yang peduli memerhatikan
pendidikan anak sehingga kesiapan alamiah ini tumbuh dan berkembang dengan
baik. Tentunya lingkungan yang mengenalkan anak dalam keberagamaan yang pertama
adalah orangtuanya. Anak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah anak yang
berusia 2-12 tahun.

1 Mahmud, dan Heri Gunawan,
Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga,
Jakarta: Akademia Permata, 2013, hlm. 136.

2 Prof. Dr. Ahmad Tafsir,
Ilmu Pendidikan Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offest, hlm. 270-271

3 Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, Jakarta:
Pustaka Amani, hlm.171

x

Hi!
I'm Joan!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out