PENDAHULUAN dapat memberikan peningkatan kecerdasan bagi peserta didik tidak

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan proses yang kompleks, namun kompleksitasnya selalu
seiring dengan pola kehidupan manusia. Melalui pendidikan pula berbagai aspek
kehidupan dapat dikembangkan untuk membangun potensi peserta didik yang
memiliki kepribadian berkarakter, menghayati nilai-nilai untuk menjadikan
kepribadian yang mudah bergaul dalam masyarakat. Hal tersebut juga diungkapkan
oleh Ikhsan (2003 : 2)1 bahwa pendidikan adalah usaha manusia
untuk mengembangkan pontensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani
sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Kemajuan suatu
bangsa dan potensi peserta didik tidak terlepas dari faktor pendidikan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dengan adanya pendidikan dapat mewujudkan peserta didik ke arah kepribadian
yang lebih baik, menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian yang mantap dan
mandiri, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Hal
ini relevan dengan yang diamanahkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Pasal 1 Ayat 1 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Bertolak dari hal tersebut,
maka pendidikan harus mampu mempersiapkan peserta didik secara aktif dan
mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga dapat membentuk kekuatan
spiritual, pengembangan diri, kepribadian, akhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan
yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kurikulum yang digunakan di Indonesia saat ini signifikan dengan tujuan
Sistem Pendidikan Nasional yaitu Kurikulum 2013. Menurut Permendikbud Nomor 69
Tahun 2013, bahwa kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat
Indonesia agar memiliki kemampuan hidup menjadi pribadi dan warga negara yang
beriman, kreatif, inovatif, produktif, dan afektif serta mampu berkontribusi
untuk kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam Kurikulum 2013 ada empat kompetensi inti yang harus dicapai,
berdasarkan Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 Pasal 2 Ayat 1 bahwa kompetensi
inti, terdiri atas kompetensi spritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi
pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Dari keempat kompetensi tersebut
dapat memberikan peningkatan kecerdasan bagi peserta didik tidak hanya cerdas
dibidang pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga cerdas untuk spritual, sikap
sosial dan keterampilannya. Sehingga akan terwujud peserta didik yang memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas tanpa meninggalkan ketaqwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, dan rasa kepedulian akan sesama, bangsa dan negara.

Kurikulum 2013 tidak terlepas dari kata kompetensi, sesuai dengan berbagai
macam buku psikologi bahwa kompetensi itu sama dengan kecerdasan. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Masaong (2011 : 62)2 bahwa kecerdasan adalah
kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara tepat berdasarkan pengalaman
untuk memberikan respons dengan baik sebagai pemilih yang tepat, penghubung,
pemecah masalah, negosiator, penyembuh dan pembangun sinergi untuk mencapai
tujuan tertentu. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa setiap guru mata
pelajaran yang mengajar harus bisa memberikan pesan-pesan spritual, sikap
sosial dan emosional yang terkandung dalam materinya. Dengan pengetahuan yang
diperoleh peserta didik mampu mengembangkan nilai-nilai sikap spritual dan
sikap sosialnya sesuai dengan kaidah dari kurikulum 2013.

Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk berfikir
secara rasional saat dihadapkan pada situasi yang mendesak. Kecerdasan itu
dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda yaitu cerdas secara intelektual dan
cerdas secara emosional. Menurut Goleman (2000 : 44)3, kecerdasan
intelektual atau Intelligence Quotient (IQ) hanya menyumbang 20% bagi
kesuksesan seseorang sedangakan 80% adalah didapatkan dari faktor lain,
diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ).

Kecerdasaan emosional adalah kemampuan dalam memotivasi diri sendiri,
pengendalian diri, mengatasi frustasi, berempati, serta kemampuan dalam bekerja
sama. Dapat dikatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor
internal yang dapat mempengaruhi kemampuan belajar peserta didik. Saat ini
peserta didik hanya terfokus terhadap hasil dan nilai, tanpa memperhatikan
bagaimana proses untuk mendapatkan hal tersebut. Sehingga tidak terbentuk
nilai-nilai karakter dan kepribadian yang baik pada peserta didik. Untuk itu
perlu diberikan pengetahuan tentang kecerdasan emosional pada peserta didik,
karena kecerdasan emosional tidak dapat diperoleh secara tiba-tiba, tetapi
membutuhkan proses dan waktu dalam mempelajarinya serta faktor lingkungan
sangat besar pengaruhnya dalam hal itu.

Pola dalam pembentukan karakter salah satunya bisa dipengaruhi oleh bahan
ajar yang memuat kompetensi inti secara komprehensif yang sesuai dengan
kurikulum 2013. Pada umumnya sumber belajar yang digunakan di sekolah adalah
bahan ajar cetak. Berdasarkan hasil analisis bahan ajar fisika SMA Kelas X pada
tanggal 30 Agustus 2017, ditemukan bahwa bahan ajar yang digunakan masih belum
memuat kompetensi inti secara utuh yang sesuai dengan kompetensi lulusan dalam
kurikulum 2013. Kompetensi yang terdapat dalam bahan ajar fisika Kelas X hanya
memaparkan KI-3 yaitu kompetensi pengetahuan dan KI-4 yaitu kompetensi
keterampilan, namun belum memuat KI-1 yaitu kompetensi spiritual dan KI-2 yaitu
kompetensi sikap sosial. Hasil dari analisis yang telah dilakukan pada empat
buku sumber Fisika yang digunakan disekolah untuk konten emosionalnya memiliki
persentase rata-rata 32.5 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa persentase bahan
ajar berupa buku teks yang digunakan di sekolah, masih berada pada kriteria
kurang memuat untuk konten emosionalnya.

Selain itu, analisis juga dilakukan terhadap materi yang terdapat dalam
bahan ajar fisika yang berupa buku teks, dan didapatkan rata-rata persentase
kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan dari setiap buku yaitu 75%.
Dari hal tersebut telah dinyatakan bahwa bahan ajar yang digunakan di beberapa
sekolah hanya memuat KI-3 yaitu kompetensi pengetahuan dan KI-4 yaitu
kompetensi keterampilan, tanpa memasukkan kompetensi sikap sosial dan
emosionalnya. Padahal, kurikulum 2013 bahan ajar yang digunakan memiliki
kesesuaian antara isi dan kompetensi lulusan yaitu KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan bahan ajar
fisika yang memuat keempat kompetensi inti secara komprehensif sesuai dengan
kurikulum 2013. Hal yang sama dikatakan oleh (Gusnedi dan Asrizal, 2016)
menyatakan bahwa kecerdasan komprehensif merupakan kecerdasan yang meliputi
kecerdasan intelektual, kecerdasan spritual, kecerdasan sosial dan emosional,
dan kecerdasan kinestetis. Dengan adanya bahan ajar yang memuat keempat konten
kecerdasan secara komprehensif akan memberikan dampak positif dan menghasilkan
peserta didik yang spritual, berkepribadian yang baik, dan memiliki
keterampilan yang kreatif. Pada penelitian Zulhendri,dkk (2016) telah dilakukan
pengembangan yang memuat kecerdasan komprehensif. Dalam penelitian yang telah
dilakukan hasil tingkat validitas bahan ajar bermuatan kecerdasan komprehensif
dinyatakan dalam kategori valid. Tetapi pengembangan nilai-nilai kecerdasan
tersebut masih terbatas dan perlu dikembangkan lagi kontennya untuk mendapatkan
suatu bahan ajar yang sempurna.