Mengatasi alternatif untuk menjawab persoalan tersebut. Sekilas lembaga yang

Mengatasi
Masalah Tanpa Masalah

(GADAI)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

      Adanya
lembaga pegadaian di Indonesia bukan suatu hal yang asing lagi. Bahkan lembaga
pegadaian ini menjadi sangat tenar dikalangan masyarakat, khusus nya di Ibu
kota, apalagi saat menjelang lebaran tiba. Bagaikan sebuah tradisi di Jakarta
untuk menggadaikan barang berharga menjelang bulan Syawal.

     Para konsumen menitipkan
barang berharga sebagai jaminan atas uang yang telah dipinjam serta keinginan
untuk bertemu sanak saudara dikampung, dan bukan tanpa alasan juga disaat
ongkos dan harga kebutuhan yang semakin tinggi, yang tidak dapat lagi diatasi
oleh gaji maupun pendapatan selama di ibukota, maka lembaga pegadaian ini yang
menjadi alternatif untuk menjawab persoalan tersebut.   

       Sekilas lembaga yang
bergerak di bidang pegadaian ini terlihat begitu sangat membantu konsumen. Dengan
menggunakan motto “Mengatasi masalah tanpa Masalah”, lembaga pegadaian ini
berhasil mencitrakan dirinya di mata masyarakat sangat baik. Namun dengan
berkaca pada syariat islam,  ketika
perjanjian gadai sudah terlaksana, terdapat unsur-unsur yang dilarang syariat. Hal
ini terlihat dari praktek gadai itu sendiri, dengan adanya bunga gadai, yang
mana pembayaran dilakukan setiap 15 hari sekali. Dan tentunya pembayaran nya harus dilakukan dengan on time, karena jika terlambat
dalam pembayaran, maka bunga gadai akan terus bertambah menjadi
dua kali lipat. Tidak hanya riba, gharar,
serta qimar juga ikut berperan dalam aktifitas lembaga ini. Yang secara jelas
terdapat kencenderungan merugikan salah satu pihak. Dan didalam islam kalau
salah satu ada yang dirugikan, maka itu tidak diperbolehkan.

     
Pengertian gadai konvensional sendiri ialah suatu hak yang diperoleh
oleh orang yang berhutang atas suatu benda bergerak yang telah diberikan oleh
si peminjam sebagai sebuah jaminan,dan barang tersebut dapat dijual ketika si
peminjam tidak dapat melunasi utangnya pada saat jatuh tempo.

      Dulu waktu zaman jahiliyah apabila sudah jatuh tempo, maka pembayaran
hutang dan si penggadai belum dapat melunasi hutangnya kepada pihak yang berpiutang,
maka pihak yang berpiutang menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa
izin orang yang menggadaikannya. Kemudian dalam Islam membatalkan cara yang dzalim
dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut merupakan tanggung jawab bagi
pemiliknya ditangan pihak yang memberikan pinjaman hutang, tidak boleh memaksa
orang yang menggadaikannya menjualnya kecuali dalam keadaan tidak mampu
melunasi hutangnya tesebut. Bila tidak sanggup melunasi ketika sudah jatuh
tempo, maka barang yang digadaikan tersebut dijual untuk membayar melunasi
hutang tersebut. Apa bila ada sisanya maka sisa tersebut menjadi hak sipemilik
barang gadai tersebut (orang yang menggadaikan barang tersebut). Namun sebaliknya,
jika harga barang tersebut belum cukup untuk melunasi hutangnya, maka
sipenggadai tersebut masih menanggung sisa hutangnya. Taudhih Al.

      Gadai
syariah adalah akad transaksi berupa
pemberian pinjaman yang
menjadikan barang yang jika dijual
memiliki nilai harta dengan
menggunakan landasan prinsip syariat islam
sebagai jaminan, dengan menetapkan
tarif jasa dari sejumlah besarnya uang yang dipinjam.

     

      Didalam gadai syariah dasar hukum yang
digunakan oleh para ulama untuk     
memperbolehkan melakukan rahn yaitu bersumber dari Al qur’an yang
menjelaskan mengenai jual-beli atau bermuamalah tidak secara tunai. Dan hadis
yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah binti Abu Bakar,
yang menjelskan bahwa Rasulullah pernah membeli makanan dari seorang Yahudi
dengan menjadikan baju besinya sebagai jaminan untuk makanan tersebut.

      Sedangkan untuk sahnya akad rahn,
ada beberapa syarat yang harus terpenuhi oleh para pihak yang terlibat dalam
akad rahn  ini yakni: berakal, baligh,
barang yang dijadikan jaminan ada pada saat melakukan akad, serta barang yang
dijadikan jaminan dipegang oleh sipenerima gadai (marhun) atau yang
mewakilinya.

      Benda Rahn yang telah
digadaikan, didalam konsep fiqh itu merupakan sebuah kewajiban
bagi murtahin
yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya, dan untuk tetap terjaga dengan baik, pastilah
membutuhkan biaya, yang pastinya akan dibebankan kepada orang yang menggadai
atau dengan cara memanfaatkan barang gadai tersebut. Dalam hal pemanfaatan
barang gadai seperti ini, para ulama berbeda pendapat karena masalah ini
sangatlah  berkaitan dengan hakikat
barang gadai, yang hanya berfungsi sebagai jaminan utang bagi pihak yang
menggadai.

      Ketika suatu lembaga
pegadaian, dalam kegiatan operasional
tidak menggunakan sistem bunga, pastilah tentu lembaga pegadaian tidak dapat
menunjang kelangsungan hidup perusahaan. Namun, di sisi lain sistem tersebut
sangat memberatkan bagi nasabah, karena pungutan bunganya yang ditetapkan setiap 15 hari
sekali.

     Benar memang, bahwa hal tersebut tidaklah terlihat susah atau berat jika
pinjaman tersebut bersifat kecil, namun ketika uang yang dipinjamkan tersebut memiliki jumlah yang besar, maka akan sangat memberatkan bagi nasabah. Masalah ini cukup
kompleks. Jika diantara kedua belah pihak salah satunya ada yang memenangkannya,
maka hal ini akan terlihat tidak adil. Lalu si penggadai diwajibkan untuk membayar
bunga setiap 15 harinya, maka hal ini juga akan merugikan pihak penggadai.

x

Hi!
I'm Joan!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out