Keragaman suku, etnis, bahasa, kepercayaan dan sebagainya. Perbedaan bukanlah

Keragaman
adalah suatu anugerah

Bumi sejatinya dapat dijadikan sebagai
tempat yang damai penuh cinta kasih bagi seluruh umat manusia. Namun, hal tersebut tergantung kepada
manusia itu sendiri, apakah mempunyai kesadaran dan bersedia hidup  dalam kedamaian
ataukah sibuk dengan carut marut konflik ataupun pertikaian antar
golongannya. Begitu
pula dengan  Indonesia, bumi pertiwi yang
kaya akan limpah ruah kekayaan alam dilengkai dengan warna warni  kekayaan ragam budaya, suku, etnis, bahasa, kepercayaan dan sebagainya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Perbedaan bukanlah sesuatu yang tabu, akan
tetapi dengan adanya perbedaan tersebut
haruslah
diilhami sebagai suatu anugerah keragaman yang tak
terkira harganya,
yaitu kekayaan bangsa yang penuh dengan nuansa dan variasi. Dengan adanya
keragaman tersebut semakin menambah rasa syukur kita sebagai bangsa yang besar
dan memiliki potensi besar dalam membangun masa depan cerah Indonesia. Anugerah yang tidak dimiliki
oleh sembarang negara
di dunia. Sudah semestinya apabila
seluruh elemen masyarakat Indonesia tanpa terkecuali pandai-pandai mensyukurinya keberagaman
 tersebut  dengan sikap saling menghormati dan merangkul
semua golongan tanpa terkecuali, mengingat persatuan dan kesatuan merupakan
modal utama dalam menciptakan bangsa yang kuat berdaulat menciptakan masyakarat
yang adil, makmur, damai dan sejahtera.

Toleransi  sesungguhnya adalah visi agama

Dewasa ini, agama seolah  menjadi sesuatu  yang terkesan kasar, kejam,  dan membuat gentar karena umat yang beragama
tersebut banyak yang mendominasi   dalam berbagai lini kehidupan dengan
menyangkut pautkan segala hal dengan masalah agamanya kemudian menampakkan diri
dengan wajah tanpa belas kasih sehingga membuat ketakutan, dan kecemasan
terutama bagi kaum minoritas. Dalam beberapa tahun terakhir ini saja, telah
banyak bermunculan konfik-konflik antaragama, intoleransi dan kekerasan atas
nama agama, sehingga realitas kehidupan beragama yang ada adalah sikap
yang  saling tidak percaya ,mencurigai,
ataupun kesalahpahaman kemudian yang pada akhirnya akan menjadikan kehidupan
yang jauh dari kesan damai dan harmonis.

Agama, dalam perspektif sosiologis
menurut Casram (2016), memiliki peran dan fungsi ganda, baik yang bersifat
konstruktif (membangun) maupun
destruktif (merusak). Singkatnya
adalah, peran agama secara konstruktif akan dapat membangun serta membuat ikatan agama menjadi
lebih ketat, bahkan sering melebihi ikatan darah. Oleh karena itu,
disebabkan oleh masalah
agama, sebuah golongan atau masyarakat dapat hidup dalam kedamaian yang utuh dan bersatu.
Sebaliknya, secara destruktif, agama juga memiliki kekuatan merusak, menghancurkan atau bahkan dapat memutus ikatan
tali persaudaraan.

Adapun agama Islam sendiri, menurut
Muhammad Yasir (2014), toleransi merupakan bagian dari visi teologi atau akidah
islamiah dan masuk dalam sistem teologi Islam. Hal tersebut
seharusnya perlu  dikaji secara  lebih mendalam serta diaplikasikan  secara nyata dalam semua aspek kehidupan beragama, karena  hal tersebut merupakan suatu keniscayaan
sosial bagi seluruh umat yang sudah memiliki kepercayaan penuh dalam dirinya
sebagai makhluk Tuhan yang memiliki keimanan seutuhnya.

Kehidupan sosial masyarakat yang
terbentuk atas dasar multikultural dan memiliki semangat hidup damai dalam
kemajemukan akan menjadi mungkin apabila semua masyarakat mampu mengakomodasi
perbedaan dan keragaman tersebut, sehingga toleransi agama menjadi sebuah
keniscayaan sebagai upaya untuk menjamin stabilitas sosial dari guna mencapai
tujuan-tujuan yang sama atas dasar kebersamaan, rasa hormat dan saling memahami
terkait pelaksanaan ritual dan doktrin-doktrin tertentu dari masing-masing
agama. Beragam rumusan tentang tipologi hubungan antar agama seperti
eksklusifisme, inklusifisme, pluralisme dan lain sebagainya sering dikemukakan
untuk membawa keragaman ini ke tahap dialog harmonis agama yang lebih intensif
dan saling merangkul satu sama lain.Kehidupan
sosial dan agama hendaknya tidak tersisih satu sama lain dan haruslah
terintegrasi ke dalam satu kesatuan yang utuh dan konkret.

KESIMPULAN

Kehidupan ini selalu menunjukkan kondisi yang tak
pasti dan beragam. Keberagaman dalam kehidupan menunjukkan bahwa dunia dan
kehidupan di dalamnya masih pada kondisi normal. Keberagaman dalam wadah
kehidupan bak hamparan tanah yang ditumbuhi beraneka macam tumbuhan dan
bunga-bunga. Keberagaman menjadi indah apabila dapat tertata dengan baik
sebagaimana juga keberagaman akan memperlihatkan keindahan nan eksotik jika
dapat dihargai oleh setiap kelompok yang ada secara nyata.

Oleh karena itu melalui semboyan  “Bhinneka Tunggal Ika” yang telah lama diusung
oleh para leluhur bangsa diharapkan generasi muda sebagai penerus tonggak
estafet perjuangan Indonesia  dapat
senantiasa menggengam erat semangat persatuan dan kesatuan antar golongan yang
meskipun memiliki pandangan dan gagasan yang berbeda, agar tidak sampai memecah
belah pondasi bangsa ini yang didasari oleh semangat persatuan dan kesatuan.

Tulisan ini bermaksud
mengingatkan supaya penghayatan dan
praktik nyata keagamaan tidak terhenti pada tahap klaim eksklusifisme
ke-akuan yang berujung pada hubungan personal dengan Tuhan (soliter),  serta tidak pula pada tahap inklusifisme kamu dengan
fokus pada perekrutan dukungan teologis atau ideologis (solidaritas), melainkan
pada tahap keterbukaan bersama (kita), dimana penghayatan
religius atas nilai-nilai kemanusiaan mendapat penekanan.

 

Perbedaan bukanlah suatu
penghalang dalam mewujudkan negri yang makmur , maju dan didamba oleh seluruh
rakyatnya, akan tetapi marilah kita menjadi bangsa besar yang senantiasa
mengingat sejarah sebagaimana bangsa ini dapat lahir dan merdeka, yang lahir
dari pengorbanan jiwa raga tanpa pamrih dari berbagai golongan yang ada dengan
mengedepankan satu cita-cita “Indonesia”.

 

Dalam tulisan singkat
ini, penulis bermaksud untuk memperkaya khazanah intelektual,
khususnya  pada kajian sosial
historis dan praktis yang menekankan bahwa kajian toleransi beragama
saat ini dan yang akan datang tidak semata-mata lahir sebatas wacana,
akan
tetapi lebih dari itu, yakni untuk menggugah dan menyadarkan  perasaaan dari setiap pemeluk agama  utamanya generasi muda sebagai penerus
perjuangan bangsa Indonesia agar menghendaki suatu kehidupan yang harmonis  dalam keberagaman. Yang tak
lain adalah untuk senantiasa mempererat tali persaudaraan kesatuan persatuan
satu tanah air Indonesia melalui semangat yang dikobarkan semboyan “Bhinneka
Tunggal Ika”.

 

REFERENSI

Yasir
Muhammad. “Makna Toleransi dalam Al-Qur’an”. Jurnal: Ushuluddin, Vol. XXII No. 2, Juli tahun 2014

Casram. Membangun
Sikap Toleransi Beragama dalam Masyarakat Plural (Bandung: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya,
2016), 187-198

Ghufron, Rajab, “Membangun Sikap Toleransi
Antarumat Beragama dalam Masyarakat Multikultural”, diakses dari http://teraswacana.blogspot.co.id/2013/06/memaknai-ulang-toleransi-beragama.html
/ 10 April 2017, (akses 10 Januari 2018 )

Tijani, Achmad, “Islam dan
Pluralisme di Indonesia”,diakses dari https://www.kompasiana.com/ach.tijani/islam-dan-pluralisme-di-indonesia_55007464a333113772510e6f/
25 Januari 2011 (akses 10 Januari 2018)

______________, “Peranan Agama”, diakses dari https://strafaelyudistira.wordpress.com/2013/01/29/peranan-agama/
/ 29 Januari 2013, (akses 10 Januari 2018 )

x

Hi!
I'm Joan!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out