KATA tinggi. Di Indonesia, suatu penduduk dikatakan miskin jika

KATA PENGANTAR

Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
Subhanahu wa ta’ala karena atas
rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Kemiskinan Dalam Prespektif Islam” dengan sebaik-baiknya. Makalah ini disusun
atas tujuan untuk memenuhi tugas akhir semester dari mata kuliah Tahap
Persiapan Bersama (TPB). Kesulitan yang penulis hadapi dalam penyusunan tugas
akhir makalah ini adalah memilih topik dari SDG’s
yang tepat untuk dibahas. Penulis juga tak lupa berterima kasih kepada para
dosen pengampu mata kuliah Tahap Persiapan Bersama (TPB) yang telah memberikan
materi mengenai empat mata kuliah yaitu: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Agama dengan sangat baik. Penulis menyadari
bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu penulis sangat terbuka
atas kritik dan saran yang membangun demi kebaikan penulis di kemudian hari.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

 

 

 

 

Bandung,
4 Januari 2018

 

 

Fikri
Rida Pebriansyah

 

DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 
Latar Belakang dan Rumusan Masalah

1.1.1       
Latar belakang
masalah

Kemiskinan merupakan
permasalahan umum yang terjadi di negara-negara di dunia. Indonesia termasuk
negara yang masih memiliki angka kemiskinan yang tinggi. Di Indonesia, suatu
penduduk dikatakan miskin jika pengeluaran per kapita per bulannya masih
dibawah Garis Kemiskinan. Berdasarkan data yang didapat dari Badan Pusat
Statistik pada bulan Maret 2017 penduduk miskin di Indonesia masih ada sebanyak
10,64% dari total penduduk atau setara dengan 27,77 juta orang. Hal yang
menarik disini adalah peningkatan angka kemiskinan dimana pada September 2016
banyaknya penduduk miskin di Indonesia adalah sebanyak 27,76 juta orang.

 

Tujuan pembahasan ini
adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara prespektif kemiskinan yang
dibahas dalam Agama Islam dengan data penduduk yang tergolong miskin di
Indonesia. Untuk itu aspek penyebab kemiskinan menurut Agama Islam menjadi
sangat penting untuk dibahas.

 

1.1.2       
Rumusan Masalah

Berdasarkan latar
belakang di atas, rumusan masalah yang penulis ajukan adalah sebagai berikut.

1.                 
Bagaimana
prespektif kemiskinan dalam Islam?

 

1.2 
Ruang Lingkup Kajian

Untuk menjawab
rumusan masalah diatas, maka diperlukan pengkajian mengenai beberapa hal,
diantaranya firman Allah Subhanahu wa
ta’ala yang terdapat dalam Al-Quran dan Sabda Rasulullah Shallallahu’alayhiwasallam yang terdapat di Al-Hadits.

 

1.3 
Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak
dicapai melalui pembahasan yang ada di makalah ini adalah

1.                 
menjelaskan
tentang kemiskinan ditinjau dari prespektif Agama Islam

 

BAB II

TEORI DASAR KEMISKINAN

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Kemiskinan Menurut Pandangan Ilmu Dunia

Seseorang dikatakan
miskin bila mengalami “capability
deprivation” dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan
yang substantif (Amartya Sen, 2001). Menurut Bloom dan Canning, kebebasan
substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman. Kesempatan
membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan. Menurut World Bank, definisi kemiskinan adalah:
“The denial of choice and opportunities
most basic for human development to lead a long healthy, creative life and
enjoy a decent standard of living freedom, self esteem and the respect of other”.

 

2.1.2 Teori Kemiskinan
Menurut Pandangan Agama Islam

Dalam Q.S. Asy Syuraa
ayat 27 Allah Subhanahu wa ta’ala
berfirman:

 

??????
?????? ??????? ????????? ??????????? ????????? ??? ????????? ???????? ?????????
???????? ??? ??????? ??????? ??????????? ??????? ???????

 

“Dan jikalau Allah
melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas
di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.”

 

Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa Allah subhanahu wa ta’ala
memberi rizki sebanyak yang hambanya butuhkan. Jika Allah subhanahu wa ta’ala memberi rizki terlalu banyak kepada
seorang hambanya, maka bisa jadi hamba tersebut berubah menjadi sombong, kikir
dan lain-lain. Allah subhanahu wa ta’ala
memiliki ‘Asma Al-‘Aliim yaitu yang
maha mengetahui. Allah subhanahu wa ta’ala
tentu lebih tahu mana yang pantas diberi kekayaan berlebih dan mana yang tidak.
Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kekayaan berlebih kepada hambanya
yang pantas mendapatkannya dan juga akan memberikan kemiskinan kepada hambanya
yang pantas mendapatkannya.

 

BAB III

ANALISIS KEMISKINAN DALAM
PRESPEKTIF ISLAM

Dalam Agama Islam
kemiskinan terjadi jika seorang hamba lebih layak untuk mendapatkan kemiskinan
dibandingkan dengan harta berlebih. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. Asy-Syuraa
ayat 27 dimana yang kandungannya adalah Allah
subhanahu wa ta’ala akan melapangkan rezeki bagi yang ia kehendaki dan Allah subhanahu wa ta’ala juga akan menyempitkan
rezeki bagi yang ia kehendaki. Banyak sekali hikmah yang bisa didapat dari
kandungan ayat diatas yaitu contohnya:

1. Kaya dan miskin bentuk keadilan Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala memiliki ‘Asma
Al-‘Aliim yang artinya maha mengetahui. Tentu Allah subhanahu wa ta’ala lebih mengetahui apa yang terbaik bagi
hambanya. Allah subhanahu wa ta’ala maha mengetahui dan selalu ada hikmah
dibaliknya.

2.
Ada yang pantas kaya dan ada yang pantas miskin.

Telah dijelaskan diatas
bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki
‘Asma Al-‘Aliim yang artinya maha
mengetahui dan tentu lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya. Apakah
hambanya lebih layak dilapangkan rezekinya ataupun lebih layak disempitkan
rezekinya.

3. Kaya bisa jadi jebakan berupa nikmat yang
disegerakan.

Bisa jadi ada hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang
mendapatkan kelapangan rezeki tetapi ia adalah orang yang gemar melakukan
maksiat. Kelapangan kekayaan tersebut adalah bentuk istidraj. Istidraj adalah suatu jebakan yang berupa kelapangan
rezeki padahal ia dalam keadaan terus bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

4. Miskin berupa hukuman atas dosa yang pernah
diperbuat.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 71 berkata bahwa kemiskinan bisa jadi hukuman atas dosa yang
diperbuat. Bisa karena pernah melakukan maksiat atau sebagainya. Dalam kandungan
Q.S. Asy-Syura ayat 30 dijelaskan adalah apa saja musibah yang datang kepada
diri kita adalah akibat perbuatan dari tangan kita sendiri.

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Allah subhanahu wa ta’ala memiliki ‘Asma
Al-‘Aliim yang artinya maha mengetahui. Allah subhanahu wa ta’ala lebih
mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya. Apakah hambanya lebih layak
dilapangkan rezekinya ataupun lebih layak disempitkan rezekinya. Allah subhanahu wa ta’ala maha
mengetahui dan selalu ada hikmah dibaliknya.

 

4.2 Saran

Jika membicarakan tentang ayat Al-Quran atau
Al-Hadits alangkah lebih baik ditambahkan dengan tafsirnya. Karena penting bagi
kita untuk mengikuti Al-Quran atau Al-Hadits sesuai pemahaman para Salafush Shalih.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2017. Persentase Penduduk Miskin Maret 2017
Mencapai 10,64 persen. Diakses dari https://www.bps.go.id/pressrelease/2017/07/17/1379/persentase-penduduk-miskin-maret-2017-mencapai-10-64-persen.html
pada 4 Januari 2018 pukul 14:42 WIB

 

Tuasikal, Muhammad
Abduh. 2010. Allah Memberi Kekayaan
Sesuai Keadilannya. Diakses dari https://rumaysho.com/820-allah-memberi-kekayaan-sesuai-keadilan-nya.html
pada 4 Januari 2018 pukul 15:27 WIB

 

Tuasikal, Muhammad
Abduh. 2015. Hikmah Ada Yang Kaya dan Ada
Yang Miskin. Diakses dari https://rumaysho.com/10994-hikmah-ada-yang-kaya-dan-miskin.html
pada 4 Januari 2018 pukul 10:22 WIB

x

Hi!
I'm Joan!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out