Guru maka akan muncul motivasi yang akan meningkatkan kinerja

Guru
yang bermutu merupakan ujung tombak  peningkatan
mutu pendidikan di suatu negara (Guerriero, 2014 : 2; Hightower, et.al, 2011:
2; Goe & Leslie, 2008 : 2). Guru yang bermutu adalah guru berkinerja tinggi
yang mampu memaksimalkan kompetensinya sebagai seorang pendidik. Kinerja guru
berkaitan dengan kemampuan dan kecakapan yang dimiliki seorang guru dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dalam rangka pembinaan siswa untuk
mencapai tujuan pendidikan. Menurut Murwati (2013:17) dan Bahri (2011:5),
kinerja guru yang dimaksud meliputi kualitas pekerjaan, kuantitas pekerjaan,
kreativitas, Tanggungjawab, kerjasama, dan disiplin kerja/loyalitas yang
dimiliki guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

Berbagai
upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, tidak akan
memberikan sumbangan yang siginfikan, jika tidak didukung oleh guru bermutu
yang memiliki kinerja tinggi (Lailatussaadah, 2015: 16). Oleh karena itu, pemerintah
Indonesia telah mengupayakan berbagai cara, salah satunya sejak tahun 2007
pemerintah Indonesia, telah menyelenggarakan program sertifikasi guru. Program
ini bertujuan untuk memberikan pengakuan kepada guru sebagai pendidik
professional, yang diikuti dengan pemberian tunjangan sertifikasi.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Guru
yang sudah berstatus sertifikasi mempunyai hak untuk memperoleh penghasilan dua
kali gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, penghasilan lain-lain yaitu berupa
tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan tunjangan
tambahan yang terkait (Jaedun, 2009:2). Melalui tunjangan sertifikasi ini,
pemerintah berharap kesejahteraan guru dapat meningkat, sehingga guru dapat terus
melakukan aktualisasi diri sebagai seorang guru profesional yang akan berdampak
pada meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hal ini
sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Maslow, bahwa hierarki kebutuhan
manusia adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa
memiliki, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan mengaktualisasikan diri.
Apabila hirerarki kebutuhan manusia tersebut telah terpenuhi, maka akan muncul
motivasi yang akan meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugasnya (Syamsuri
dan Nurdin, 2016: 161).

Berdasarkan
paparan diatas dapat dipahami bahwa langkah yang diambil pemerintah untuk
meningkatkan kinerja guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru diharapkan
dapat meningkatkan mutu guru, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia.

Namun,
kenyataan yang terjadi selama lebih dari 10 tahun ini, kinerja guru
bersertifikasi di Indonesia belum memberikan hasil yang memuaskan atau belum
sesuai dengan harapan. Hal ini dibuktikan oleh beberapa penelitian evaluasi
kinerja guru bersertifikasi, seperti yang dilakukan oleh World Bank pada tahun
2014 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kinerja antara guru bersertifikat
dan guru tidak bersertifikat, yang memberikan bukti lebih lanjut bahwa
sertifikasi tidak berdampak pada praktik-praktik pengajaran dan perilaku guru
(Chang, et.al, 2014). Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Murdadi dan
Entri Sulistari (2015) yang berjudul “Dampak Sertifikasi Guru Dalam Peningkatan
Kompetensi Profesional Di Kalangan Guru SMK Pelita Salatiga”, menyatakan bahwa guru  sertifikasi 
kurang  menguasai kompetensi
khususnya kompetensi  profesional. Guru
sertifikasi di SMK Pelita Salatiga tidak meningkatkan kompetensi profesional
guru. Secara tidak langsung penguasaan kompetensi profesional guru masih sama
seperti sebelum sertifikasi. Selanjutnya
penelitian “Evaluasi Kinerja Guru
Fisika, Biologi Dan Kimia Sma Yang Sudah Lulus Sertifikasi”, oleh Yusrizal dkk
(2011) menunjukkan bahwa, kinerja guru Fisika, Biologi, dan Kimia SMA yang
sudah lulus sertifikasi dan sudah menerima tunjangan belum seluruhnya
berkinerja tinggi. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut dapat disimpulkan
bahwa harapan pemerintah melalui program sertifikasi dapat meningkatkan kinerja
guru tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Tedapat kesenjangan antara
kondisi ideal yang diharapkan dari penyelenggaraan program sertifikasi guru
dengan fakta yang terjadi dilapangan. Hasil-hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kinerja guru sebelum dan sesudah
sertifikasi. Kinerja guru belum juga meningkat meskipun sudah berstatus guru
sertifikasi.

Kondisi
demikian juga terjadi dengan guru bersertifikasi di SMA Negeri 1 Waingapu, Kabupaten
Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan hasil studi pendahuluan,
Kepala Sekolah menyatakan bahwa kinerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 1
Waingapu, kinerja guru sertfikasi belum sepenuhnya memenuhi harapan dari tujuan
diadakannya program sertifikasi guru. Status sebagai guru bersertifikasi belum memiliki
dampak secara linear atau belum menunjukkan hasil yang positif dengan peningkatan
kinerja guru. Meskipun dalam hal ini bukan semua guru, namun secara umum
kinerja guru sertifikasi belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kinerja
guru bersertifikasi di SMA Negeri 1 Waingapu jika dilihat dari aspek
perencanaan pembelajaran, menunjukkan bahwa masih ada guru sertifikasi yang
tidak memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap, baik dari segi kelengkapan
administrasi maupun kelengkapan substansi. Menurut Kepala Sekolah, hal ini
terjadi karena guru hanya sekedar membuat perangkat pembelajaran dan tidak
memahami pedoman penyusunan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan struktur kurikulum.
Selain itu kepala Sekolah juga menyatakan bahwa, budaya baca guru-guru di SMA
Negeri 1 Waingapu masih rendah, sehingga menyebabkan masih ada guru yang belum
bisa membuat silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan bahan ajar
sendiri, namun hanya copy paste dari
internet atau dari rekan guru yang mengajar mata pelajaran yang sama.

Sedangkan,
jika dilihat dari aspek pelaksanaan pembelajaran, masih ada guru yang tidak
menyampaikan apersepi dan tujuan pembelajaran pada kegiatan pendahuluan (guru
langsung menyampaikan materi pembelajaran). Selain itu masih ada guru yang melaksanakan
pelaksanaan pembelajaran tidak sesuai dengan RPP yang sudah dirancang.
Maksudnya, perangkat pembelajaran sudah menggunakan kurikulum 2013, namun
pembelajaran di kelas belum menunjukkan implementasi Kurikulum 2013. Selain itu
ada kegiatan-kegiatan dalam RPP yang tidak dilaksanakan saat pembelajaran
dikelas atau sebaliknya. Namun, kepala sekolah menyatakan bahwa hal ini terjadi
karena Kurikulum 2013 masih merupakan hal yang baru, sehingga guru-guru masih
membutuhkan waktu untuk penyesuain dalam implementasinya.

Selanjutnya,
jika dilihat dari Aspek penilaian pembelajaran, belum semua guru memahami
tentang penilaian otentik kurikulum 2013. Kepala sekolah menyatakan bahwa hal
ini terjadi karena sekolah ini baru memasuki tahun kedua pelaksanaan Kurikulum
2013, sehingga meskipun guru yang sudah sertifikasi sekalipun masih mengalami
kesulitan dalam melakukan penilaian otentik. Sehingga, berdasarkan hasil studi
pendahuluan ini menunjukkan bahwa SMA Negeri 1 Waingapu memerlukan evaluasi kinerja
guru secara eksternal untuk mengetahui gambaran nyata dan menyeluruh dari
kinerja guru bersertifikasi di SMA Negeri 1 Waingapu.

Kinerja
guru yang sudah bersertifikasi perlu dievaluasi secara periodik. Melalui program
evaluasi secara periodic dapat diketahui sejauh mana kinerja guru
bersertifikasi dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Penelitian
evaluasi kinerja guru melibatkan pengumpulan data dengan menggunakan instrument
evaluasi. Persyaratan instrumen evaluasi kinerja guru harus memenuhi ukuran
atau standar tertentu, yang artinya penelitian evaluasi ini membutuhkan suatu
model evaluasi tertentu. Sehingga, dalam penelitian ini peneliti akan
menggunakan model evaluasi kinerja guru yang di kembangkan oleh Charlotte
Danielson. Model Evaluasi ini hampir sama dengan Penilaian Kinerja Guru (PKG)
yang digunakan di Indonesia, namun hanya beberapa aspek yang membedakan. Alasan
pemilihan model evaluasi ini yaitu, karena model ini
telah banyak digunakan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat.
Sehingga dalam era persaingan mutu pendidikan di era ini, Indonesia perlu
menggunakan alat evaluasi yang sama seperti yang digunakan di negara maju.

 Model evaluasi Danielson merupakan model yang
menggambarkan pentingnya memiliki kerangka evaluasi kinerja guru yang
komprehensif. Model ini menilai kinerja guru terhadap seperangkat standar
kinerja yang telah ditentukan yang diterjemahkan ke dalam deskriptor rinci
dalam rubrik, yang terdiri atas empat (4) domain, yaitu (1) Perencanaan dan
persiapan, (2) Pengelolaan kelas, (3) Pelaksanaan Pembelajaran, dan (4) Tanggungjawab
profesional). Model ini cocok untuk menilai kinerja guru sertifikasi (Moss,
2015: 64-67).

Berdasarkan
paparan diatas, peneliti akan melakukan penelitian evaluasi guru bersertifikasi
di SMA Negeri 1 Waingapu, Kabupaten Sumba Timur menggunakan model evaluasi
Danielson.